Dermatitis merupakan kelompok penyakit kulit yang menyebabkan peradangan dengan gejala seperti kemerahan, gatal, kulit kering, bersisik, atau lepuh. Meskipun gejalanya sering tampak mirip, setiap jenis dermatitis memiliki penyebab, lokasi, dan penanganan yang berbeda. Dengan mengenali gejala sejak dini, menjaga kesehatan kulit, serta menghindari faktor pencetus sehingga kekambuhan dermatitis dapat dikurangi.
Dermatitis adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan peradangan pada kulit. Kondisi ini dapat menyebabkan kulit menjadi merah, gatal, kering, bersisik, atau muncul ruam kulit. Dermatitis bukan merupakan penyakit menular, namun memiliki berbagai penyebab dan gejala yang berbeda.
Jenis Dermatitis
Dermatitis bukan termasuk penyakit autoimun, melainkan kondisi peradangan pada kulit yang bisa terjadi karena faktor genetik, lingkungan, alergi, atau iritasi. Macam-macam dermatitis cukup beragam dan dapat terbedakan berdasarkan penyebab, lokasi munculnya, serta kondisi kulit yang timbul. Beberapa macam-macam dermatitis yang umum antara lain:
1. Dermatitis Seboroik
Dermatitis seboroik adalah peradangan kulit yang umumnya terjadi pada area tubuh yang memiliki banyak kelenjar minyak, seperti kulit kepala, wajah (terutama di sekitar hidung dan alis), telinga, serta dada. Penyebabnya belum pasti, tetapi berkaitan dengan produksi minyak berlebih, pertumbuhan jamur Malassezia yang secara normal hidup di kulit, serta terpengaruhi oleh faktor genetik, stres, dan kondisi daya tahan tubuh.
Penderitanya biasanya mengalami kulit kemerahan muncul sisik berwarna putih atau kekuningan yang tampak berminyak. Pada kulit kepala, kondisi ini sering muncul sebagai ketombe yang sulit hilang dan rasa gatal. Dermatitis pada wajah paling sering terjadi di area sekitar alis, lipatan hidung, belakang telinga, atau area janggut pada pria.
Baca Juga: Penyebab Eksim Kulit, Gejala, dan Cara Mengatasinya
2. Dermatitis Atopik
Dermatitis atopik atau eksim merupakan penyakit kulit kronis yang sering terjadi sejak bayi atau anak-anak, meskipun dapat pula muncul pada usia dewasa. Penyakit ini karena adanya kombinasi faktor genetik, gangguan fungsi sawar kulit (skin barrier) dan ketidakseimbangan mikrobiota kulit, serta gangguan respons sistem kekebalan tubuh.
Kekambuhan dapat terjadi karena suhu panas, polusi udara, sabun tertentu, keringat, debu, maupun berbagai macam alergen lainnya. Gejala yang paling khas adalah kulit yang sangat kering dan rasa gatal yang hebat, terutama pada malam hari.
Kulit tampak ruam bruntus kemerahan, dan bila sering Anda garuk bisa terjadi luka basah, keropeng, serta peradangan dalam waktu lama dapat menjadi lebih tebal dan kasar. Pada bayi, ruam biasanya muncul di pipi, dan bagian luar lengan dan tungkai.
Sedangkan pada anak yang lebih besar kelainan lebih sering terjadi di lipatan siku, lipatan lutut, dan leher. Pada dewasa kelainan ini dapt muncul di area kulit manapun pada tubuh.
3. Dermatitis Kontak
Dermatitis kontak adalah peradangan kulit yang terjadi akibat kontak langsung dengan suatu bahan yang menyebabkan iritasi atau memicu reaksi alergi. Penyebabnya dapat berupa bahan iritan, seperti sabun, deterjen, atau bahan kimia, maupun bahan yang menimbulkan alergi, misalnya logam, parfum, kosmetik, tanaman tertentu, atau bahan pengawet.
Keluhan biasanya muncul tepat pada area kulit yang bersentuhan dengan zat penyebab. Kulit menjadi merah, terasa gatal atau perih, dan dapat muncul pembengkakan. Pada beberapa kasus, dapat muncul dermatitis maculopapular, yaitu ruam berupa bercak kemerahan yang disertai bintil kecil pada permukaan kulit. Selain itu, dapat timbul lepuh berisi cairan yang kemudian mengering dan mengelupas.
4. Dermatitis Numularis
Dermatitis numularis merupakan macam-macam dermatitis dengan bercak berbentuk bulat menyerupai koin. Penyebab pastinya belum diketahui, tetapi beberapa faktor yang dapat memicu atau memperberat kondisi ini antara lain kulit yang sangat kering, cuaca dingin atau kelembapan udara yang rendah, sabun atau bahan pembersih tertentu, gigitan serangga atau lecet, serta stres emosional.
Pada sebagian orang, dermatitis numularis juga lebih sering terjadi pada seseorang yang memiliki riwayat dermatitis atopik Gejala pada kulit biasanya berupa bercak kemerahan berbentuk bulat yang terasa sangat gatal.
Permukaan kulit tampak bersisik dan pada fase awal kadang mengeluarkan cairan sebelum akhirnya mengering dan membentuk kerak. Kelainan paling sering terjadi di lengan dan tungkai, meskipun dapat pula muncul pada bagian tubuh lainnya.
Baca Juga: Kenali 6 Ciri Kulit Sensitif dan Cara Merawatnya
5. Neurodermatitis
Neurodermatitis adalah peradangan kulit yang terjadi akibat kebiasaan menggaruk atau menggosok kulit secara berulang karena rasa gatal yang terus-menerus. Penyebabnya belum pasti, namun stres emosional, kecemasan, maupun kebiasaan menggaruk dapat memicu dan memperberat kondisi ini.
Gejalanya berupa rasa gatal yang sangat mengganggu sehingga penderita terus menggaruk area yang sama. Akibatnya, kulit menjadi lebih tebal, kasar, dan terkadang berubah warna menjadi lebih gelap atau lebih terang dibandingkan kulit di sekitarnya. Neurodermatitis umumnya mengenai area yang mudah terjangkau untuk Anda garuk, seperti tengkuk, pergelangan tangan, lengan bawah, tungkai, pergelangan kaki, atau daerah kemaluan
6. Dermatitis Stasis
Dermatitis stasis adalah peradangan kulit yang terjadi akibat gangguan aliran darah balik pada pembuluh darah vena, terutama di tungkai bawah. Kondisi ini umumnya terjadi pada penderita varises atau gangguan sirkulasi vena kronis yang menyebabkan darah menumpuk di tungkai bawah
Gejalanya berupa pembengkakan pada tungkai, terutama di sekitar pergelangan kaki, serta kulit yang tampak kemerahan atau kecokelatan, terasa gatal, kering, dan bersisik. Bila tidak tertangani dengan baik, kondisi ini dapat berkembang menjadi luka yang sulit sembuh (ulkus tungkai). Kelainan hampir selalu terjadi di tungkai bawah, terutama di sekitar pergelangan kaki bagian dalam.
7. Dermatitis Dishidrotik (Pompholyx)
Dermatitis dishidrotik atau pompholyx, adalah salah satu jenis dermatitis dengan munculnya lepuh-lepuh kecil berisi cairan pada telapak tangan, sisi-sisi jari, telapak kaki, atau jari kaki. Penyakit ini sering bersifat kambuhan dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari karena rasa gatal maupun nyeri.
Hingga saat ini, penyebab dermatitis dishidrotik belum pasti. Namun, kondisi ini berkaitan dengan kombinasi beberapa faktor, seperti kecenderungan alergi atau dermatitis atopik, dermatitis kontak akibat paparan bahan iritan atau alergen tertentu, keringat berlebih (hiperhidrosis), stres emosional, serta paparan logam seperti nikel atau kobalt pada sebagian orang.
Cuaca panas dan lembap juga dapat memicu kekambuhan pada beberapa penderita. Gejala khasnya adalah munculnya lepuh-lepuh kecil berisi cairan yang terasa sangat gatal di bawah permukaan kulit.
Lepuh dapat bertahan selama beberapa minggu sebelum mengering, kemudian kulit menjadi bersisik, mengelupas, atau pecah sehingga terasa perih dan nyeri. Pada kasus yang sering kambuh, kulit dapat menjadi lebih tebal dan kasar akibat peradangan yang berlangsung berulang. Kelainan paling sering terjadi di telapak tangan, sisi-sisi jari tangan, telapak kaki, atau sisi jari kaki.
Baca Juga: Perbedaan Psoriasis dan Eksim
Pengobatan Dermatitis di C Derma
Pengobatan dermatitis di C Derma dilakukan secara menyeluruh, mulai dari konsultasi dengan dokter spesialis kulit hingga penanganan sesuai jenis dan tingkat keparahannya. Setiap pasien akan mendapatkan perawatan yang sesuai dengan kondisi kulit untuk memastikan penanganan yang efektif dan aman.
C Derma menyediakan berbagai macam terapi topikal, oral hingga perawatan medis berbasis teknologi modern untuk meredakan gejala peradangan, gatal dan perbaikan sawar kulit (skin barrier). Selain itu, pasien juga akan mendapatkan edukasi agar dapat menghiindari pemicu serta menjaga kesehatan kulit jangka panjang.









